Selasa, 06 Agustus 2019 - 20:28:31 WIB

Gempa dan Narasi Penguasa

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Agama & Kepercayaan - Dibaca: 56 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 6 Agustus 2019

 

ADA GEMPA, TAPI TAK ADA NARASI TAQWA YANG DIUNGGAH PENGUASA
 
Oleh : Nasrudin Joha 
 
Jum'at malam (2/8) terjadi gempa berkekuatan M 6,9 SR. Episentrum (pusat gempa) terletak di 164 km arah barat daya Kota Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Koordinat episentrum berada pada 7,32 derajat Lintang Selatan dan 104,75 derajat Bujur Timur. 
 
Gempa terasa di sejumlah titik, dari pulau Jawa hingga Sumatera. Sejumlah warga di Kota kota seperti Bandung, Bekasi, Jakarta, Tangerang, Serang, Merak, hingga Bandar Lampung turut merasakan getaran gempa.
 
Meski akhirnya potensi tsunami tidak terjadi, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mencatat sebanyak 26 rumah rusak akibat gempa M 6,9 Banten. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.
 
Meski terjadi gempa, istana tidak membatalkan gelaran wayang kulit diikuti sejumlah parade gelak tawa yang menjauhkan dari dzikrulloh. Artis semacam Didi Kempot, Soimah, dll, tetap melanjutkan parade hiburan dan gelak tawa tanpa perlu mengheningkan cipta, untuk bermuhasabah atas dosa karena terjadinya gempa.
 
Presiden pun, tak mengungagah satupun kalimah yang mengingatkan rakyat agar kembali taqwa, kembali taat. Mungkin saja, media juga akan mengulangi hal serupa. Sibuk mengulas gerakan lempeng ini itu, patahan ini itu, akibat dan dampak, potensi-potensi, dst.
 
Tak ada, satupun wakil negara yang mengingatkan rakyat atas adanya hubungan kasualitas antara gempa dengan maksiat yang dilakukan manusia. Konstruksi narasi sosial menjadi kering, seolah negara Nir agama. 
 
Para agamawan juga luput, menjalankan fungsi mereka untuk mengingatkan umat atas adanya salah dan dosa. Semua sibuk menghitung kerugian mateeril, sibuk melakukan recovery fisik dan mental, namun justru luput merecovery keyakinan keberagamaan. Lupa mengingatkan, bahwa dibalik lempengan ini itu, bergeraknya patahan ini itu, ada Allah SWT dzat yang maha pengatur dibalik itu semua.
 
Sementara umat Islam yang telah kembali pasa kesadaran Ruh keislaman, merindukan pemimpin laksana Rasulullah SAW, Abu Bakar RA dan Umar RA. Merindu kehadiran pemimpin, yang langsung menegur maksiat rakyat ketika terjadi Gempa dan mengajaknya kembali untuk taat.
 
Rezim yang ada, justru melakukan maksiat secara terbuka. Menerapkan hukum selain hukum Allah SWT. Berebut kuasa dan jabatan, tanpa menghiraukan air mata, keringat, dan darah penderitaan rakyat. 
 
Mereka tetap gontok gontokan rebutan posisi ketua MPR, rebutan jatah menteri dan sejumlah posisi strategis lainnya. Mereka terus bertarung, baik secara terbuka maupun tertutup untuk berebut kuasa. 
 
Tak ada, satupun diantara mereka yang memikirkan rakyatnya. Ya Allah, ampunilah kami. Segera, turunkan pertolongan dengan tegaknya syariat Islam dan hadirnya pemimpin taat ditengah-tengah kami, Aamiin.
 
 
 
 
 
FB>Aleeza



Grosir Kaos Distro
07 Agustus 2019 - 08:42:56 WIB

informasi yang bagus sekali semoga info ini bermanfaat
Buat Seragam Kerja
13 Agustus 2019 - 10:03:12 WIB

makasih gan, lanjutkan update nya

Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

549257

Pengunjung hari ini : 69
Total pengunjung : 195802
Hits hari ini : 107
Total Hits : 549257
Pengunjung Online : 1
Menurut Pendapat Anda, Pemilu 2019 ?

Lihat Hasil Poling