Kamis, 13 Agustus 2020 - 07:08:21 WIB

Lulus PTN

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pendidikan & Humaniora - Dibaca: 61 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 13 Agustus 2020

 

Sore itu gawaiku berbunyi pelan, pertanda sebuah pesan masuk. Segera kubuka dan kubaca. Sebuah permohonan bantuan membayar SPP kuliah.
 
Selama ini aku sudah mengenalnya dengan baik. Sehingga aku segera membantunya. Alhamdulillah uang titipan teman-teman yang ada di rekening cukup untuk membantunya. Tanpa pikir panjang, segera kutransfer saat itu juga.
 
Dia berasal dari NTT. Seorang anak yatim. Adiknya masih kecil-kecil. Terbiasa hidup sangat sederhana. Bisa dikatakan dia bisa kuliah di Salatiga berkat bantuan orang-orang baik. Dia tinggal di sebuah kostan ikhwan, sekaligus sebagai takmir masjid. Juga rutin menjaga sebuah toko. Sebuah usaha untuk memperoleh penghasilan. 
 
Melihatnya gigih kuliah di tengah kesederhanaan, serasa melihat diriku di masa lalu. Aku juga berasal dari keluarga sederhana. Perlu berjuang untuk bisa kuliah. Dulu aku mati-matian mencari beasiswa agar bisa meringankan beban orang tua.
 
Dulu orang tuaku sudah berpesan : hanya akan kuliah jika tembus Perguruan Tinggi Negeri. Jika tak bisa masuk PTN artinya tidak kuliah. Karena kuliah di swasta itu mahal, tak terjangkau oleh keuangan keluargaku.
 
Aku yang bersekolah SMA di Sorong-Papua Barat harus belajar siang malam demo tembus PTN di Jawa.  Bisa kau bayangkan betapa beratnya harus bersaing dengan anak-anak SMA di Pulau Jawa. Mereka terbiasa ikut bimbel ini itu, tambahan pelajaran dari guru-guru terbaik. 
 
Saat itu di Sorong belum ada lembaga bimbel yang berdiri. Jadi aku hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah dan buku-buku latihan soal. 
 
Jangan kau tanya bagaimana aku berjuang. Seluruh kamarku kutempel dengan kertas manila berwarna putih. Kemudian kutuliskan aneka rumus matematika, kimia, fisika disana. Jadi begitu membuka mata yang terlihat adalah aneka jenis rumus. Sehingga terekam dalam alam bawah sadarku.
 
Bisa dikatakan kelas 3 SMA itu masa belajar paling keras dalam hidupku. Karena aku sadar diri bahwa sainganku untuk tembus PTN itu dari seluruh Indonesia. Apalah aku, hanya seorang anak SMA dari Sorong-Papua Barat. Pastilah kemampuanku jauh di bawah anak-anak SMA di Jawa.
 
Begitu ijazah keluar, aku segera berangkat ke Jawa. Aku berangkat ke Jawa tidak diantar orang tua, tetapi ngikut tetangga yang kebetulan mau pulang ke Jawa. Kami naik kapal Dobon Solo. Berangkat dari pelabuhan Sorong.
 
Saat itu kami membeli ticket kelas ekonomi. Kau tau apa artinya kelas ekonomi? Artinya adalah tidak dapat tempat tidur. Artinya adalah tidur dimanapun bagian kapal. Jika beruntung, maka bisa dapat bed tempat tidur yang berjejer di dek kapal. Tapi jika tidak beruntung maka harus tidur di lantai beralas tikar. 
 
Aku yang hanya anak kecil, kurus, baru lulus SMA, pastilah kalah rebutan bed dengan penumpang lain. Akhirnya aku harus puas tidur di bawah tangga. Aku lupa berada di deck berapa. Sepertinya deck 4 dari total 7 deck kapal. 
 
Meskipun tidak mendapat bed tempat tidur, tapi aku santai saja. Yang penting sudah terangkut kapal dan menuju Jawa. Aku bukanlah anak cengeng yang harus dapat bed. Aku bisa tidur dimana saja.
 
Sepanjang perjalanan, pekerjaanku hanya belajar. Aku tidak ambil pusing dengan lalu lalang orang di depanku. Karena aku sadar diri bahwa aku harus belajar keras agar bisa masuk PTN.
 
Suatu ketika ada ABK (anak buah kapal) yang menghampiriku. Dia takmir musholla kapal yang sering kulihat ketika sholat berjamaah. Letak musholla ada di deck ketujuh, lantai paling atas. ABK itu mencarikan sebuah bed untukku. Sepertinya dia kasihan melihat ada anak SMA kurus kering tidur nglemprak di lantai. Berkat bantuan ABK itu, maka aku bisa tidur nyaman di atas tempat tidur di deck 4 bersama penumpang lainnya. 
 
Kau tau seperti apa bed di kapal kelas ekonomi? Ranjang berjajar 4 baris. Jadi Kita tidur sebelahan dengan penumpang lain, entah laki atau perempuan, maka ngga ambil pusing. Dapat bed aja udah Alhamdulillah. Karena banyak sekali penumpang yang tidur di lantai. Jadi kalau aku berjalan menuju musholla di lantai atas, maka aku harus melewati para penumpang yang tidur di lantai.
 
Setelah 5 hari perjalanan, akhirnya kapal bersandar di Surabaya. Aku meneruskan perjalanan menggunakan bus. Rasanya capek sekali. Aku tak kuat membaca buku pelajaran lagi. Jadi selama di bus aku hanya menikmati pemandangan saja. Berusaha menikmati suasana tanah Jawa yang sudah kutinggalkan selama 3 tahun.
 
Ketika bus sampai di gerbang Kabupaten Kebumen, ada keharuan yang tak bisa dijelaskan. Aku baru faham bagaimana rasa bahagia menginjakan kaki di kampung halaman. Begini rasanya menjadi seorang perantau. Selalu merindukan kampung halaman.
 
Aku sampai rumah dalam kondisi flu berat. Ingus kental keluar. Mungkin karena kecapekan selama perjalanan. Aku hanya beristirahat beberapa hari di rumah kakakku. Setelah itu langsung berangkat ke Unsoed Purwokerto. 
 
Rasanya bahagia sekali melihat kampus. Melihat para mahasiswa berseliweran dengan ceria, membuatku ingin segera kuliah disini. Rasanya takjub melihat mahasiswa, mereka terlihat sebagai sosok-sosok cerdas. Karena mereka sudah bisa lolos masuk PTN. Entah bagaimana denganku, apakah bisa tembus PTN atau tidak. Aku belum bisa berharap banyak.
 
Saat ujian tiba. Aku masih flu berat. Aku membawa sapu tangan besar untuk mengelap ingus. Aku berharap masih bisa berfikir jernih meskipun sedang sakit. Aku telah berusaha maksimal, telah belajar mati-matian, kini hasilnya kuserahkan pada Alloh.
 
Hari pemgumuman tiba. Rasanya deg-degan sekali membeli koran. Sejuta doa sudah kupanjatkan agar namaku tercantum. Lembar demi lembar kubuka. Satu demi satu mama kususuri. Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Menyusuri nama demo nama itu seakan berjalan di lorong waktu, sangat menegangkan.
 
Dan jariku berhenti pada namaku yang tercantum. Alhamdulillah aku diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Rasanya bahagia sekali. Aku menangis karena sangat bahagia. Perjuanganku selama ini berbuah manis, aku diterima di sebuah PTN di Pulau Jawa.
 
Pertama kali yang kucari adalah kostan akhwat. Aku ingin selama kuliah nanti bisa belajar agama. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Bersyukur aku menemukan kostan sesuai impianku. Sebuah kostan yang sering buat kajian. Berisi orang-orang baik yang berusaha taat padaNya. Lengkap sudah kebahagiaanku. Bisa tembus PTN di Jawa sekaligus mendapatkan kostan akhwat.
 
Selama kuliah, aku berusaha mencari beasiswa. Aku ingin meringankan beban orang tuaku. Tak hanya mencari beasiswa di kampus tapi juga melayangkan surat permohonan ke berbagai lembaga. Dan ketika ada sebuah lembaga yang ngirim wesel untuk membayar SPP itu rasanya bahagia sekali. Meski hanya sekali dapat wesel dari lembaga sosial, tapi itu sangat berkesan. Dan sangat membantu untuk membayar SPP.
 
Itulah mengapa saya mau membantu mahasiswa NTT itu. Karena aku pernah berada di posisinya....kuliah dengan penuh kesederhanaan...
 
 
 
 
 
 
 
Widi Astuti - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

1627105

Pengunjung hari ini : 373
Total pengunjung : 315309
Hits hari ini : 1088
Total Hits : 1627105
Pengunjung Online : 3
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling