Kamis, 03 September 2020 - 05:44:00 WIB

Peristiwa Suingai Jurug

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Nasional - Dibaca: 103 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 03 September 2020

 

Kau tau, PKI itu sangat keji. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bahkan tak segan menyamar menjadi aktifis Islam demi membantai ummat Islam. Licik sekali bukan?
 
Meskipun tahun 1926 dan 1948 PKI sudah melakukan pemberontakan, tapi ternyata PKI masih bisa hidup nyaman di zaman Soekarno.
 
Saat itu Soekarno mengusung Nasakom (Nasional Agama Komunis) sebagai haluan dalam memimpin negara. Seharusnya dia mengamalkan Pancasila, bukan Nasakom. Tapi entahlah mengapa dia begitu mengunggulkan Nasakom. Mungkin karena dia dekat dengan DN Aidit, Njoto, ataupun tokoh PKI lainnya. Bahkan Soekarno berangkulan sangat mesra dengan para tokoh PKI. 
 
Efek kemesraan Soekarno dengan PKI menyebabkan para aktifis PKI menjadi jumawa. Merasa paling berkuasa. Merasa paling kuat dan memegang kendali, tak terkecuali di Kota Solo.
 
Saat itu suasana kota Solo sangat mencekam. Tahun 1965 seakan menjadi tahun horor tak berkesudahan. Serangkaian penculikan dan pembunuhan para aktifis Islam  menjadi berita sehari-hari yang membuat bergidik ngeri.
 
Pemuda Rakyat yang merupakan sayap kepemudaan PKI meneror tiada henti. Menyebarkan aroma ketakutan ke seluruh penjuru kota batik. Para aktifis HMI, Masyumi, NU, Muhammadiyah, menjadi incaran. Bahkan terkadang sampai nyawa harus melayang.
 
Saat itu tanggal 30 September 1965. Peristiwa penculikan para Jenderal di Jakarta seakan membawa angin segar ke daerah-daerah. Seakan pertanda bahwa PKI akan menuju puncak kejayaan memimpin negri ini.
 
Tanggal 1 Oktober 1965 Letkol Untung merebut RRI Jakarta. Kemudian RRI Solo dan RRI Yogyakarta juga direbut kaum merah. Mereka serentak mengumumkan sebuah kudeta. Mereka kompak menebar wabah kengerian ke seluruh penjuru negri.
 
Rakyat kecil ketakutan. Mayoritas memilih mengurung diri di dalam rumah. Takut terjadi peristiwa chaos. Kota Solo begitu mencekam karena hampir seluruh aparat pemerintahan Kota Solo adalah orang PKI. Mulai dari walikota, camat, Lurah, RW, RT, semuanya diisi oleh kader PKI.
 
Para aktifis Islam menjadi buronan. Nyawa mereka di ujung tanduk. Tak sedikit aktifis Islam yang diculik dan berujung kematian. Tak ditemukan jasadnya.
 
Saat itu ada sebuah truck berkeliling Kota Solo. Sebetulnya mereka aktifis PKI. Tetapi mereka justru menyamar sebagai aktifis anti PKI. Orang di atas truck itu berseru, mengajak warga Kota Solo untuk bersama-sama melawan antek PKI. Ajakan tersebut sangat manis dan meyakinkan. Seakan-akan mereka milisi anti PKI.
 
Akhirnya banyak yang tertipu. Sekumpulan pemuda masjid dan pemuda aktifis Islam menyambut seruan itu. Mereka naik ke atas truck dengan tujuan ingin melawan antek PKI. Semangat juang terpancar jelas di wajah-wajah bersih itu.
 
Tapi truck itu terlihat aneh, justru melaju ke luar kota, menjauhi sasaran seharusnya yang ada di dalam Kota Solo. Para penumpang yang terdiri dari aktifis Islam itu saling berpandangan, bertanya-tanya tak mengerti. Mereka merasa aneh dan mulai curiga jika truck ini sebenarnya milik PKI. 
 
Mereka di bawa jauh ke luar kota. Truck berhenti di Sungai Jurug Solo. Tiba-tiba semua disuruh turun dari truck dan ditodong senjata.
 
Para aktifis Islam itu diikat dan digelandang ke Sungai Jurug Solo. Langit sudah mulai gelap. Mereka digelandang satu per satu ke tepi Sungai. Ada yang mencoba melawan. Tapi nahas, justru dia menjadi korban pertama. Lehernya ditebas dengan golok. Kepalanya jatuh menggelinding ke dalam Sungai Jurug Solo.
 
Pemandangan itu membuat semua tercekat, tersadar bahwa mereka telah ditipu oleh PKI. Satu persatu penumpang truck dieksekusi. Entah berapa kepala manusia yang menggelinding ke dalam Sungai Jurug di malam itu...
 
Ada satu penumpang yang berusaha menyelamatkan diri. Di saat menunggu antrian eksekusi, dia menggelindingkan dirinya hingga tercebur dalam Sungai. Dia hanyut dalam keadaan terikat. Untungnya algojo PKI itu tidak mengejar dirinya. Membiarkan satu orang itu hanyut dengan asumsi pastilah dia akan mati terantuk bebatuan.
 
Tapi takdir berkata lain. Orang yang menghanyutkan diri dalam sungai itu selamat. Semalam suntuk dia berada dalam aliran Sungai Jurug. Kemudian dia terdampar di tepi Sungai dalam keadaan pingsan. Alhamdulillah ada seorang pencari ikan yang menemukan dirinya. Kemudian menyelamatkan nyawanya.
 
Begitu siuman, aktifis Islam itu segera pulang ke rumahnya. Dia menceritakan kejadian pembantaian di Sungai Jurug itu kepada warga Solo. Seluruh ummat Islam marah dan geram, tidak terima dengan kebiadaban itu.
 
Tanggal 3 Oktober, aktifis Islam yang selamat itu berceramah di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta. Sekitar 600 orang mendengarkan kisahnya dengan penuh keharuan, kepiluan, sekaligus kegeraman.
 
Ummat Islam sangat marah dengan kekejian para algojo PKI. Sejak itu ummat Islam Solo serempak mengangkat senjata melawan para algojo PKI.
 
Kisah kelam pembantaian di Sungai Jurug Solo juga terjadi di tempat lainnya di penjuru Pulau Jawa. Pertumpahan darah selalu hadir ketika kaum komunis di atas angin. 
 
Meskipun pemberontakan G30SPKI gagal, tapi ceceran darah telah tertumpah. Entah bagaimana jadinya jika pemberontakan itu berhasil...mungkin kita sudah tidak ada...
 
Sepenggal kisah dari Solo ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa PKI tak pernah ragu untuk menumpahkan darah sesama anak bangsa...
 
 
 
 
 
WA - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

1789747

Pengunjung hari ini : 127
Total pengunjung : 347333
Hits hari ini : 243
Total Hits : 1789747
Pengunjung Online : 3
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling