Senin, 13 September 2021 - 06:22:28 WIB

Negara Dalam Candaan

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Nasional - Dibaca: 558 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 13 September 2021

 

DARI BERCANDA KE NEGARA
 
“Banyak sekolah yang berkiblat ke Taliban. Sekolah tersebut tidak mau menghafal nama-nama menteri. Penyebaran radikalisme juga harus diwaspadai dengan penyebaran pelajaran bahasa Arab”. Begitulah yang diperbincangkan orang saat ini yang katanya berasal dari seseorang yang disebut media sebagai pengamat intelejen itu. Siapa pun dia, jika benar itu kata-katanya, jelas bahwa itu pernyataan dangkal, awam, serasa guyon belaka, tapi juga tendensius dan mungkin jahat. Ceplas-ceplos yang tidak penting. Cukup memalukan jika pendapat receh itu keluar dari seorang yang katanya pakar.
 
Tapi setelah dipikir-pikir lagi sambil nongkrong di toilet, saya menemukan beberapa hal:
 
• PERTAMA. Oke pernyataan-pernyataan itu ibarat guyonan orang awam yang dangkal, tapi bukankah biasa orang pintar meletakkan ilmunya hanya untuk mengatakan sesuatu dengan motif uang, keduniaan atau politik? Ulama yang meletakkan kefaqihannya di balik jubah hanya untuk berfatwa sesuai pesanan penguasa. Peneliti yang di masa kampanye tiba-tiba mengatakan dollar akan turun jika Pak Joko jadi presiden, juga ada. Mereka mungkin menguasai landasan ilmu, tapi dorongan dunia dan kekuasaan membuat mereka berkata-kata tanpa menggunakan ilmunya sehingga terkesan dangkal dan awam. 
 
• KEDUA. Ini yang merisaukan: Bukankah banyak pernyataan-pernyataan seolah dari rakyat bawah (kelompok tertentu di masyarakat) yang terkesan guyonan, asal-asalan, dangkal dsb tetapi kemudian setelah itu tiba-tiba saja keluar kebijakan negara yang sejalan dengan “guyonan” itu? Ayo kita lihat contohnya:
- Bukankah kebijakan adanya TWK di KPK serta revisi UU KPK sebelumnya didahului dengan guyonan “ada Taliban di KPK”?
- Bukankah kebijakan negara berupa penghapusan bahasan tentang tema khalifah atau khilafah dalam pelajaran sekolah (SKI) juga diawali dengan guyonan “rekrutmen teroris bisa diawali dari Rohis”?
- Bukankah dulu pernah ada kebijakan negara yang menaikan harga BBM didahului dengan “guyonan" tentang “memberi untuk negara & berbagi dengan rakyat"?
- Bukankah kebijakan negara berupa terbitnya Perpu Ormas, pembekuan HTI lalu pembubaran FPI juga didahului dengan aneka “guyonan” tentang intoleransi, radikalisme, ISIS dan semacamnya? 
 
Dari sini kita mulai bertanya-tanya, kira-kira akan ada kebijakan negara apa lagi yang akan mengikuti “guyonan” tentang sekolah berkiblat ke Taliban dan soal Bahasa Arab ini? Apakah akan ada kebijakan tertentu soal sekolah-sekolah swasta bernuansa keagamaan? Mudah-mudahan tidak akan ada kebijakan yang aneh-aneh ya.
 
 
 
 
Ibnu Zaini Atmasan - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

2659423

Pengunjung hari ini : 358
Total pengunjung : 492928
Hits hari ini : 1054
Total Hits : 2659423
Pengunjung Online : 3
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling