Senin, 04 Oktober 2021 - 20:46:38 WIB

Bahasa

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pendidikan & Humaniora - Dibaca: 86 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 04 Oktober 2021

 

 
Budi dan bahasa. Keduanya keluar dari hati dan mulut. Budi di hati. Bahasa di mulut. Orang Melayu sangat paham perihal ini.
 
Budi yang baik tidak cukup. Bahasa yang baik juga tidak cukup. Keduanya harus dijodohkan. "Kusangka aur di pinggir tebing, kiranya tebu di pinggir bibir. Kusangka jujur pancaran batin, kiranya palsu penghias zahir", demikian syair klasik Melayu.
 
Bahasa adalah cara mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itu bagi bangsa tertentu barangkali adalah budi pekerti. Bagi bangsa lainnya adalah pengetahuan. Mungkin bagi bangsa yang lain lagi adalah simbol peran. Simbol kelas. Kedudukan. Atau mana saja unsur terpenting (core culture) dalam kehidupan bangsa tersebut.
 
Tetapi:
 
Bahasa juga adalah sarana manipulasi yang dahsyat. Menyusup ke dalam bawah sadar para penuturnya. Agenda-agenda besar telah menggunakan bahasa untuk mengubah lapisan-lapisan paling penting. Bisa dengan cara mempromosikan istilah baru untuk menimpa istilah lama. Bisa juga dengan tetap mempertahankan istilah lama, tapi menggeser maknanya melalui media-media komunikasi massa.
 
Amatilah kembali kata demi kata. Cari makna awalnya. Dan Anda akan banyak terperanjat dengan perubahan maknanya, terutama penyelewengan praktiknya. 
 
Demokrasi. Kekuasaan di tangan rakyat. Itu makna awalnya. Kemudian, yang dipahami adalah, kekuasaan di tangan sistem. Dan sebuah sistem pasti ada pengendalinya, penentu tombol "on-off"-nya. Dan itu tidak mungkin rakyat. 
 
Keadilan. Letaknya di dalam nurani masyarakat. Itu pada awalnya. Kemudian keadilan diformulasikan melalui seperangkat sistem peradilan. Menjadi sebuah keadilan prosedural. Yang tidak dimengerti lagi oleh masyarakat. Tapi tetap dapat dirasakan oleh mereka: bahwa itu tidak adil! Jadi, adil ini berasal dari mana, dan akan pulang pada siapa?
 
Negara. Siapa yang membuat negara? Siapa yang menyatakan bahwa Indonesia negara merdeka? Pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan, dengan ini kemerdekaannya. Yang merdeka adalah bangsa. Kita akan bercerita panjang lebar lebih dahulu apa dan siapa bangsa ini. Barulah dapat bercerita tentang hal lainnya. Tapi mengapa setiap 17 Agustus 1945 diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia? Padahal tidak ada republik pada saat itu. Yang ada adalah bangsa yang merdeka. Pelajari dulu ini. Bangsa ini. Sebelum selesai dengannya, bagaimana Anda kemudian bisa meloncat kepada perkakas-perkakas seperti republik, negara, konstitusi, dan baju-baju seragam yang diciptakan? 
 
Kita semakin murtad dari makna-makna. Sekilas terlihat ini hal sepele. Tapi ini adalah peristiwa-peristiwa besar. Sebab pergolakan maknawi jauh lebih dahsyat dari seribu revolusi.
 
Bahasa adalah wilayah pertarungan antara kebenaran dengan manipulasi. Kebenarannya tersambung ke dalam kelembutan hati. Tidak ada terjemahannya. Ia menjelaskan dirinya sendiri. Penipuannya menjelma melalui tirani definisi. Terjemahan dan tafsir. Ia bergantung pada selain dirinya. Dia menjadi karya, bukan lagi makna.
 
Maka, kita perlu berhati-hati. Bahasa mempersatukan bangsa. Dan bahasa juga yang menceraikannya. Dan akan tiba masanya orang-orang saling berbicara, tapi tidak saling memahami. Semua menjadi terdengar seperti hoax, dan satu sama lain tidak mempercayai. Karena bahasa yang dipakai telah ditinggalkan oleh maknanya sendiri.
 
Pada saat itu, kita akan berdengung-dengung, dan kehidupan berjalan, hanya karena tetap harus dilanjutkan. 😀
 
 
 
 
Tikwan Raya Siregar - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

2659383

Pengunjung hari ini : 355
Total pengunjung : 492925
Hits hari ini : 1014
Total Hits : 2659383
Pengunjung Online : 2
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling