Sabtu, 27 Agustus 2022 - 19:52:20 WIB

Menulis !

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pendidikan & Humaniora - Dibaca: 263 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 27 Agustus 2022

 

GARIS 
 
Kolega akademisi saya, bahkan sampai tua, banyak yang masih semangat dan rajin nulis di jurnal-jurnal dengan penuh kebanggaan. Saya salut dan apresiatif pada mereka. Saya senang dengan kesenangan mereka. Kadang ada perasaan ingin seperti mereka.
 
Tapi saya kok males ya. Sudah gak bisa. Menulisnya sangat bisa tapi semangatnya sudah hilang. Semangatnya masih disitu terus, sudah gak bisa. Sudah kehilangan gairah sejak menginjak usia 50-an. Ada kejenuhan akademis dan merasa hidup jangan begitu terus dan disitu terus, harus berubah dan meningkat. Men-transenden. Saya merasa, hidup begitu itu, tak ada perubahan. Saya gak suka hidup teknis, stagnan, formal dan rutin, tak ada perubahan kesadaran diri.
 
Soal menulis artikel ilmiah, saya generasi awal dan boleh dibilang pelopor di kampus. Saya menulis sejak masih mahasiswa tingkat awal, saat dosen-dosen belum terbiasa nulis di media massa atau koran. Soal menulis di jurnal, saya juga sudah menulis di jurnal-jurnal saat belum musim Scopus. Saat itu, masih jarang dosen di kampus saya menulis di jurnal. Saya menurun semangat menulis di jurnal justru ketika itu dijadikan syarat kenaikan pangkat dan golongan bahkan guru besar alias profesor. Saya sendiri heran. Saya lebih suka menulis sebagai kegelisahan ketimbang kewajiban. Saya berhenti menulis di koran setelah merebak media sosial yang disitu menulis lebih bebas dan independen.
 
Banyak sekali yang bilang, seharusnya saya jadi profesor, lha mahasiswa saya saja banyak yang sudah jadi doktor dan ada yang sudah profesor. Ada yang bilang, "antum tuh profesor qabla profesor." Saya manusia dong, woow... jadi profesor!! Siapa yang tak mau dengan sebutan keren dan tambahan tunjangan yang lumayan itu. Tapi melihat isi dan kualitas para profesor, males lagi. Profesor makin banyak makin terjadi degradasi. Ada beberapa profesor yang saya sebut "Prof," malah bilang "ah meni ararisin." Ada juga yang bilang," "Aah ... ini mah nambah usia pensiun sajaa ..." 😄 "Jangan bilang begitu ah." Lho, kok tidak bangga? Saya lihat memang banyak profesor tidak pede. Bagaimana saya mau bangga, mereka sendiri tidak membanggakan dirinya.
 
Saya kemudian justru lebih suka mengkritisi ketimbang mendukung ikut arus tradisi akademis menulis formal di jurnal-jurnal yang banyak aturan dan banyak tidak asli pikiran sendiri itu. "Itu bukan ilmu," pikir saya, "itu administrasi." Semua orang bisa memaksakan diri walaupun tak sesuai kapasitannya. "Teu kaawakan!" Ceuk Ki Guru mah.
 
Gak tahulah, yang jelas mereka lebih berprestasi, mereka lebih maju. Saya ya begini-begini saja. Menikmati hidup dalam keyakinan dan garisnya sendiri. Hidup memang jangan dibanding-bandingkan. Itu mengundang penyakit. Kumaha Gusti weh, moal dipikiran, toh hidup ini bukan saya yang punya.
 
Mendingan ngopi daripada mikirin tentang kopi. Mendingan terus menulis ketimbang mikirin tentang menulis. Menulislah dengan jiwa selama hayat masih di kandung badan. 😊☕🚬🚬🚬
 
 
 
 
MHH - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

3305195

Pengunjung hari ini : 692
Total pengunjung : 655605
Hits hari ini : 2201
Total Hits : 3305195
Pengunjung Online : 6
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling