Kamis, 08 September 2022 - 15:00:49 WIB

BBM Alternatif

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Nasional - Dibaca: 162 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 08 September 2022

 

Kenaikan harga BBM Indonesia vs Rencana Produksi Minyak Non Konvensioal 
 
Ada satu hal yang nampaknya menurutku sengaja tidak diekspose negara dibalik alasan kenaikan harga BBM untuk warga berkali kali.
 
Apa itu ?
 
Adanya rencana dan upaya lebih serius negara bekerjasama denga swasta untuk penambangan  minyak dan gas bumi dengan cara non konvensional  mengingat cadangan minyak bumi Indonesia yang sudah menipis.
 
Berdasar keterangan Menteri ESDM Cadangan minyak Indonesia dengan asumsi di lifting 700 barel per hari maka cadangannya tingal 9 tahun dari sekarang 
 
Di sisi lain berdasar keterangan Kementrian ESDM pula sudah ada 70 proposal yang meminta ijin kerjasama bisnis minyak non konvensional dengan Indonesia, namun belum di setujui kementrian 
 
Diketahui ada dua cara penambangan minyak non konvensional :
 
1.Produksi Shale Oil 
 
Penambangan  minyak bumi ini yang lazim dalam dunia pertambangan disebut Shale Oil (Minyak Serpih , Kerogen Serpih). Dalam istilah terbaru disebut Tight Oil (Minyak ketat)
 
Bila dalam penambangan migas cara konvensional,  penambang tinggal menggali lokasi yang mengandung minyak dan gas, kemudian langsung di angkat ke permukaan bumi menjadi minyak mentah , tanpa proses lebih lanjut karena hasilnya sudah berupa cairan , maka tidak demikian dengan cara penambangan Shale oil.
  
 
Shale Oil atau Tight Oil didefinisikan sebagai batuan sedimen immature, berbutir halus yang mengandung sejumlah besar material organik yang spesifik yaitu alginit dan/atau bituminit.
 
Batuan sedimen itu kemudian digali , dipecahkan (fracking)  kemudian diekstraksi dengan dipanaskan (> 550 derajat celcius) dengan hasil produksi minyak mentah yang mempunyai potensi ekonomis sebagaimana penambangan minyak bumi konvensional.
 
Diketahui Cadangan terduga Shale Oil Indonesia sekitar 8 Milyar barrel 
 
Sementara Potensi shale gas Indonesia 574 TCF , lebih besar dari gas metana batubara sebesar 453,3 TCF dan kandungan gas konvensional 153 TCF
 
1 Triliun kaki kubik (TCF)  = 28.316.846.592.000 liter
 
Lokasi prospek utama: Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi 
 
Dengan potensi demikian maka Indonesia termasuk negara dengan cadangan minyak non konvensional ke 10 terbesar di dunia . 
 
Cadangan shale oil terbesar dunia masih dipegang Rusia dengan cadangan 75 milyar barrel dan kedua USA dengan 58 Milyar barrel
 
 
Namun demikian , walau cadangan berlimpah, namun membutuhkan biaya produksi lebih banyak tinimbang migas konvensional
 
Menurut Badan Energi Dunia IEA, nilai keekonomian penambangan Shale itu memang masih tergantung dari harga minyak mentah konvensional
 
Penambangan Shale dianggap menguntungkan bila harga minyak dunia diatas USD 100 /barrel, mengingat  biaya produksi shale oil ini sekitar USD 95/barrel  , tergantung lokasi.
 
Jadi bila harga minyak dunia anjlok, maka shale menjadi tidak layak secara ekonomi untuk ditambang. Para penambang pun mengalami kerugian. 
 
Ini pernah terjadi di era 1980 an dimana jatuhnya harga minyak dunia menyebabkan kerugian besar bagi Exxon di lokasi dekat Colorado sehingga menghentikan  proyek eksplorasinya senilai USD 5 Milyar pada Mei 1982, dikenal di dunia tambang dengan nama “Black Sunday” 
 
Beberapa perusahaan lain seperti Royal Dutch Shell  dan beberapa perusahaan dari Swedia, Kanada, pun pernah bernasib sama 
 
2. Pencairan (liquifikasi ) Batu Bara 
 
Diketahui Indonesia mempunyai cadangan batu bara yang relative besar. 
 
Termasuk urutan ke 11 dunia dengan jumlah terduga 24,9 Milyar ton .
 
Diketahui pula Batubara dapat diubah secara langsung menjadi bahan bakar sintetik yang setara dengan bensin atau solar melalui hidrogenisasi atau karbonisasi. 
 
Prosesnya batubara dibuat slury sebagai bahan dasar pembuatan syncrude untuk mengkonversi batubara menjadi cairan melalui proses pencampuran dengan menggunakan pelarut (additive)
 
Sama dengan tehnologi shale oil , biaya produksi dan tehnologi liquifikasi batubara yang tinggi ini  menyebabkan teknologi pencarian batubara belum dapat bersaing dengan minyak konvensional , walau memang sedikit lbih murah tinimbang biaya produksi shale oil. 
 
Maka nilai keekonomian baru bisa tercapai bila harga minyak konvensional melesat tinggi.
 
Kelemahan lain dari Pencairan batubara ini karena mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida daripada produksi bahan bakar cair dari minyak mentah.
 
Bila memang demikian adanya, maka idealnya jangan korbankan warga negara dengan harus membayar harga tinggi. 
 
Silakan saja harga minyak dunia naik, dan Indonesia berpartisipasi dalam bisnis minyak dunia mengingat potensinya yang besar dan bisa mendapat keuntungan.  
 
Namun keuntungan dari hasil jual minyak mentah Indonesia ke pasar internasional baik dari penambangan minyak konvensional, produksi shale oil dan liquifikasi batu bara  justru ditujukan untuk menekan semaksimal mungkin harga jual BBM di dalam negeri .
 
Bukan malah sebaliknya warga ditekan untuk mengikuti trend harga minyak internasional.
 
 
(Sama dengan kasus CPO beberapa bulan lalu yang telah mengerus habis hutan dan fauna Indonesia , dimana Indonesia produsen CPO terbesar di dunia , namun ketika harga CPO dunia naik tinggi, warga Indonesia justru sengsara.)
 
Mungkinkah Berkah Kekayaan Sumber Daya Alam itu bisa dinikmati sebagian besar warga di Indonesia ???? 
 
Atau berkah Bumi Air Dan Kekayaan Alam Di dalamnya yang melimpah di negeri ini  justru menjadi sumber petaka bagi sebagian besar warga negaranya ? 
 
Sementara mimpi kosong Negara Kesejahteraan (Welfare State)  selalu didengungkan para petinggi negeri hanya untuk meraih popularitas warga negara ?
 
 
 
 
Adi Ketu Saga - FB




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

3305031

Pengunjung hari ini : 659
Total pengunjung : 655570
Hits hari ini : 2037
Total Hits : 3305031
Pengunjung Online : 7
Covid-19 tercipta secara ?

Lihat Hasil Poling