Minggu, 10 Maret 2024 - 10:13:04 WIB

Ilmu Hikmah Lima

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Agama & Kepercayaan - Dibaca: 81 kali

[suluh.co.id] Jakarta, 10 Maret 2024

 


Bagaimana seharusnya Muhammadiyah, NU, Persis, Salafi-wahabi, FPI, HTI, madzhab fiqh, kelompok tarekat, aliran tasawuf dan semua ormas dan kelompok umat Islam menyikapi kebenaran internalnya masing-masing? Inilah jawabannya!!
_______

WILAYAH-WILAYAH KEBENARAN YANG HARUS DIJADIKAN PEGANGAN INTERNAL

Moeflich H. Hart
(Ilmu Hikmah Lima)

Setiap kelompok dakwah atau ormas Islam memiliki kebenaran masing-masing yang diyakininya. Kebenarannya itu dijadikan sebagai pegangan bersama atau pegangan internal kelompok. Madzhab fiqh, organisasi sosial keagamaan, kelompok tarekat, organisasi kemasyarakatan (ormas Islam), organisasi dakwah dan organisasi apa saja, pasti memiliki pegangan kebenarannya masing-masing yang dipegang secara internal.

Pegangan kebenaran internal ini ada yang diajarkan pendirinya atau rumusan yang disepakati bersama dalam kelompok itu.

Pertanyaannya, wilayah-wilayah kebenaran apa sajakah yang harus dipegang dalam sebuah kelompok?

Ada lima wilayah kebenaran yang harus dijadikan pegangan secara internal dalam sebuah kelompok dalam rangka berfastabiqul khairat dengan kelompok-kelompok lainnya.

Pertama, Kebenaran Argumentasi

Kebenaran argumentasi adalah wilayah kebenaran yang dipegang dan disepakati bersama berdasarkan argumen dalam sebuah kelompok.

Kebenaran di wilayah ini, dasarnya adalah logika, rasio, penjelasan, data-data, dalil dan sejenisnya yang dikembangkan, digunakan dan dipegang dalam kelompok tersebut.

Karena dasarnya argumen, kebenaran kelompok sifatnya relatif dan lokal, ia hanya dipegang dan dikembangkan dalam kelompok atau organisasi itu, bukan untuk dikomunikasikan keluar. Diluar, orang akan memegang wilayah kebenaran lain dengan pendirian dan argumentasi yang berbeda.

Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Salafi-Wahabi, FPI, HTI dan kelompok ormas Islam lain, sering memiliki pendirian kebenaran masing-masing yang berbeda dan tidak sepakat dengan kelompok lain, bahkan ada yang sampai menimbulkan ketegangan, konflik dan tak ada rasa persaudaraan apalagi persatuan. Ini masalah yang sudah lama mewarnai kehidupan umat Islam.

Kebenaran internal sebuah kelompok belum tentu diterima oleh kelompok lain. Karenanya, ketika berada dalam kelompok yang lebih besar dan dalam konteks yang lebih luas, kita harus memegang kebenaran yang lebih luas dan melepaskan kebenaran-kebenaran lokal dan internal yang hanya untuk dipegang oleh kelompok.

Kedua, Kebenaran Persepsi

Di luar kebenaran argumentasi ada kebenaran persepsi. Artinya, bila terjadi perbedaan pendapat dalam argumentasi dan tidak terjadi kesepakatan, akhirnya berujung pada persepsi masing-masing dalam memahami, memegang dan meyakini kebenaran sebuah masalah.

Dengan kata lain, setelah argumentasi dimiliki, masing-masing orang dan kelompok kemudian akan masuk ke dalam wilayah persepsinya masing-masing. Tidak apa-apa, memegang persepsi adalah sah dalam kehidupan. Biarkan ada persepsi-persepsi yang berbeda-beda diantara keragaman kelompok asal berdasarkan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang penting, perbedaan persepsi ini tidak menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Ketiga, kebenaran Intuisi

Selain kebenaran argumentasi dan persepsi, ada wilayah lain lagi yaitu wilayah kebenaran intuisi. Intuisi adalah kebenaran yang dasarnya adalah hati atau keyakinan.

Kebenaran intuisi adalah kebenaran yang dasarnya adalah kepekaan dan ketajaman hati. Kebenaran intuisi datang melalui bisikan hati, firasat, mimpi, sensasi fisik, getaran rasa atau yang lain yang tidak direncanakan dan tidak dipikirkan sebelumnya.

Bila argumentasi dan persepsi masing-masing kelompok macet, tidak menemukan kebenaran yang disepakati bersama, berpeganglah kemudian kepada intuisi untuk meyakini sebuah kebenaran.

Bila intuisi kita mengatakan benar, Insya Allah itu benar, maka ikutilah. Bila intuisi kita mengatakan salah, maka tinggalkanlah.

Tapi, kebenaran intuisi tidak sembarangan. Intuisi yang bisa dipercaya adalah dari orang-orang shaleh, yang hatinya bersih, perasaannya peka dan tajam, sedikit berbuat dosa dan maksiat, orang yang hidupnya lurus dan bersih, tidak rakus dan tidak mencintai dunia.

Semakin dekat seorang hamba dengan Tuhan melalui ketekunan ibadahnya, intuisinya akan semakin tajam. Kebenaran intuisi adalah kebenaran firasat yang bersumber dari Allah melalui hati yang bersih, dari dzauq yang kuat dan peka.

Rasulullah SAW pernah mengatakan hati-hatilah dengan firasat orang beriman. Ini adalah kepekaan dan ketajaman intuisi dari kedekatan dan keyakinannya kepada Allah SWT.

Namun demikian, kebenaran intuisi tidak bisa dilembagakan atau dipaksakan pada orang lain untuk diterima karena sifatnya subyektif.

Karenanya, kebenaran intuisi adalah kebenaran untuk dipegang dan diyakini dalam sebuah kelompok secara internal. Pengalaman spiritual adalah pengalaman subyektif yang berada dalam wilayah kebenaran intuisi yang kebenarannya hanya untuk diakui kelompok, jama'ah dan mereka yang mempercayainya, tidak bisa dipaksakan untuk dipercaya dan diikuti kelompok lain.

Keempat, Kebenaran Naluri

Wilayah keempat adalah kebenaran naluri. Setiap manusia memiliki naluri pada kebenaran. Kebenaran naluri adalah kebenaran yang berdasarkan naluri manusia yang alami. Setiap manusia memiliki naluri pada kebenaran yang ditanamkan Allah SWT dalam dirinya: “Fa-alhamahâ fujûrahâ wataqwâhâ” (Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya) (Asy-Syam: 8).

Rasulullah SAW bersabda: “Kullu mauludin yûladu ‘alal fitrah” (Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah). Pengertian fitrah disini salah satunya adalah fitrah pada kebaikan dan kebenaran. Mengikuti naluri kebenaran adalah mengikuti tuntutan alamiah kita sebagai manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran. Seperti halnya kebutuhan pada makanan, kebutuhan seks, mencari kesenangan dan lain-lain, mencari dan menemukan kebenaran juga adalah naluri manusia.

Kelima, Kebenaran Nurani

Terakhir adalah kebenaran nurani. Bila kebenaran naluri adalah kebenaran yang alami, maka kebenaran nurani adalah kebenaran yang mengikuti bisikan hati, kebenaran yang diliputi cahaya hati, kebenaran yang mengandalkan dan mengikuti kata hati.

Nurani atau hati nurani selalu menuntun pada kebenaran dan tidak pernah menuntun pada yang salah. Nurani akan mengatakan benar pada yang benar dan mengatakan salah pada yang salah. Hati yang bersih dan lurus, jauh dari iri hati, dengki, riya, jauh dari buruk sangka, jauh dari keangkuhan dan kesombongan, adalah andalan dalam menyandarkan kebenaran nurani.

Mengikuti nurani adalah bertanya kepada hati, apakah sesuatu itu salah atau benar, lalu bisikan itu diikuti dengan segenap kemampuan dan kesungguhan.

Orang yang segala sikap dan tindakannya selalu mengikuti bisikan hati nuraninya, hidupnya akan selalu berada dalam kebenaran di bawah bimbingan cahaya iman dan tuntunan Allah SWT.

Kelima wilayah ini adalah wilayah kebenaran internal untuk dipahami dan dipegang sebagai sikap yang benar sehingga menimbulkan kemaslahatan bagi umat Islam.***




Isi Komentar :
  • Hari ini 12 juni, tahun 1964 Nelson Mandela divonis penjara seumur hidup
  • Concorde melakukan penerbangan perdananya (24 Mei 1976) dari London ke Washington, D.C ...
  • Pembalap rockie Yamaha, Vinales, menyabet gelar pertamanya di seri MotoGP perdana 2017 di Qatar
  • Ferrari akhirnya memecah kebuntuan setelah pembalapnya Vettel menjuarai GP perdana di musim 2017
  • Hari ini (21/2), 41 tahun silam Presiden Soekarno Umumkan Reshuffle Kabinet Dwikora pada thn 1966

4697332

Pengunjung hari ini : 422
Total pengunjung : 1017710
Hits hari ini : 944
Total Hits : 4697332
Pengunjung Online : 3
Apa yang Anda harapkan di 2024 ?

Lihat Hasil Poling